Friday, July 26, 2019

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT BERWIRAUSAHA PENGHUNI LAPAS PEREMPUAN DI PONTIANAK


PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT BERWIRAUSAHA PENGHUNI LAPAS PEREMPUAN DI PONTIANAK


Heni Maryani
Email: ekonomiteacher@gmail.com


Program Studi Magister Pendidikan Ekonomi FKIP Untan


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan pelatihan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan Pontianak. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 84 napi dari berbagai jenis kejahatan. Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah regresi linear berganda. Bentuk penelitian kuasi survei adalah analisis legresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen yaitu pengaruh pendidikan dan pelatihan kewirausahaan terhadap minat berwirausah. Pengumpulan data dilkaukan dengan kuisoner terhaddap 84 responden/sampel. Hasil penelitian didapat, 1) Terdapat pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 98.6%, 2) Terdapat pengaruh pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 99.7%, 3) Terdapat pengaruh pendidiakn dan pelatihan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 99.8% sedangkan sisanya (100% - 99.8% = 0.2%) merupakan kontribusi faktor yang tidak diteliti

Kata kunci: Pengaruh Pendidikan,  Pelatihan, Minat Berwirausaha




PENDAHULUAN
Indonesia pada masa lalu menggunakan istilah penjara untuk menamai tempat yang digunakan bagi para pelaku kejahatan. Tempat ini terdiri dari jalur-jalur bangunan dan setiap jalur terdiri dari kamar-kamar kecil yang satu dan lainnya tidak dapat berhubungan. Dengan demikian diharapkan setelah menjalani hukumannya ia akan menjadi insaf dan tidak melakukan tindak kejahatan lagi. Akan tetapi tindakan seperti itu tidak bertujuan mendidik secara positif. Hal itu secara psikologis dapat menimbulkan kemungkinan-kemungkinan psikis yang berakibat sakit mental, kejahatan besar atau kejahatan besar kambuhan.
Dari beberapa kemungkinan yang terjadi terebut maka pemerintah mengubah peran Penjara menjadi Lembaga Permasyarakatan (LAPAS). Artinya para terhukum ditempatkan bersama dan proses penempatan serta kegiatan sesuai jadwal sejak terhukum masuk lembaga, disamping lamanya menjalani masa hukuman. Lembaga Pemasyarakatan bukan hanya sekedar tempat untuk memenjarakan orang yang melakukan tindak kejahatan saja, namun di dalamnya terdapat pembinaan agar orang tersebut tidak melakukan tindak pidana lagi. Sementara itu terdapat akibat negatif yang ditimbulkan dan sering dilontarkan bahwa pidana penjara tidak hanya mengakibatkan perampasan kemerdekaan seseorang saja, tetapi ada stigma atau cap jahat yang melekat pada diri terpidana sekalipun tidak melakukan tindak pidana lagi dan berdampak memiliki martabat yang buruk dimuka umum untuk mendapatkan pekerjaan.
Dengan adanya hal di atas perlu diadakan pembinaan dalam bidang kemandirian dilakukan dengan tujuan setelah narapidana keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, mereka dapat mandiri dengan bekerja pada orang lain atau membuka usaha sendiri, sehingga dapat berguna di tengah-tengah masyarakat. Didalam perjalanan pembinaan terebut membutuhkan waktu yang lama serta proses yang tidak cepat, namun seiring dengan berjalannya masa tahanan narapidana dapat menjalani proses dengan baik dan bisa kembali berbaur di dalam masyarakat.
Pelatihan keterampilan wirausaha sebagai salah satu program pembinaan untuk memperoleh pengetahuan dan minat wirausaha dikategorikan kedalam ruang lingkup pembinaan narapidana adalah untuk membuat narapidana dapat bergaul dengan narapidana lain selama menjalani keterampilan dan juga sebagai bekal narapidana dalam proses reintegrasi dengan masyarakat. Pembinaan keterampilan sebagai salah satu program pembinaan narapidana akan dapat terlaksana secara maksimal dengan menjalin kerjasama melalui pihak ketiga baik dengan instansi pemerintah maupun pihak swasta yang dapat memberikan bimbingan pengetahuan keterampilan yang bermanfaat di masyarakat apabila nanti jika habis masa tahanan. Narapidana harus dibekali keterampilan yang sesuai dengan kemampuan agar mereka mampu mandiri dan mampu bersaing dengan masyarakat tanpa melakukan tindak kejahatan lagi.
Selain itu, sumber daya manusia yang berkualitaslah yang sangat diharapkan mampu mengembangkan serta merupakan salah satu aset utama dalam menggali dan mengembangkan segala potensi yang ada pada suatu negara. Tentu dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk para narapidana tersebut, pemerintah berusaha keras mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional melalui program pelatihan yang dilakukan di Lapas. Secara jelas pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap dunia pendidikan. Langkah ini tersusun dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yan bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan potensi siswa didik agar menjadi peserta didik yang berima, bertakwa pada Tuhan, berakhlak mulia, sehat berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Tujuan pendidikan nasional tesebut dapat dicapai dengan tiga macam pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal. Pendidikan formal yang merupakan pendidikan yang terjadi disekolah, pendidikan informal merupakan pendidikan yang terjadi didalam lingkungan keluarga dan pendidikan non formal merupakan pendidikan yang terjadi dilingkungan masyarakat musalnya LPK dan kursus-kursus.
Pendidikan non formal dalam suatu masyarakat memiliki fungsi penting dalam pengembangan ekonomi masyarakat, sehingga pendidikan non formal perlu dikembangkan disamping pendidikan formal. Dalam konteks pembangunan ekonomi berkelanjutan, dengan melihat kelompok sasaran pendidikan non formal memegang peran untuk memberdayakan warga masyarakat yang kurang beruntung dan juga mereka yang beruntung, para 2 pekerja dan mereka yang akan bekerja. Munculnya masyarakat yang kurang beruntung disatu sisi di sebabkan oleh pembangunan ekonomi yang ditandai dengan adanya peningkatan lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan tetapi tidak dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki baik pengetahuan, sikap, mental, kesehatan dan juga kepemilikan modal.
Menurut Sakernas dalam Made Dharmawati (2016:1) “ mengemukakan fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan Indonesia dimana semangkin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau kemungkinan menjadi pengangguran semakin tinggi.”
Hal ini dilihat berdasarkan pada angka BPS – Statistik Indonesia, pada November 2017, sebanyak 128,06 juta penduduk Indonesia adalah angkatan kerja, jumlahnya bertambah 2,62 juta orang dari agustus 2016, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga megalami peningkatan 0,33 poin. Dalam setahun terakhir, pengangguran bertambah 10 ribu orang, sementara TPT turun sebesar 0,11 poin.
Dari data diatas terlihat bahwa masih besarnya angka pengangguran, tentunya penciptaan dari lapangan pekerjaan tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja yang menyebabkan besarnya angka pengangguran. Hal ini menjadi salah satu tuntutan bahwa kualitas sumber daya manusia yang semakin tinggi.
Dalam hal ini tentunya, sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu membawa suatu negara kearah yang lebih maju. Dari pengukuran sekarang dapat dilihat bahwa sumber daya manusia semakin menentukan persaingan dibandingkan dengan sumber daya lainnya. Tantangan ini sangat mengupayakan agar adanya daya saing dan keunggulan kompetitif yang lebih mengandalkan pengetahuan serta adanya keterampilan,  kreativitas dan inovatif dari sumber daya manusia yang ada.
Program pendidikan di Lembaga Permasyarakatan ditekankan pada kegiatan pembinaan dan pelatihan bagi narapidana (warga binaan). Ruang lingkup pembinaan narapidana di Lembaga Permasyarakatan dibagi menjadi dua bidang yakni program pembinaan kepribadian dan program pembinaan kemandirian. Lembaga Permasyarakatan Perempuan di Pontianak merupakan salah satu tempat penyelenggaraan program kemandirian berupa pembinaan keterampilan dalam memberikan pengetahuan yang dilaksanakan di Lapas. Program pelatihan ini dimulai pada bulan maret tahun 2017. Pelatihan yang telah dilaksanakan yakni pembuatan tas talikur dan rajut, pembuatan kalung manik, pelatihan menjahit membuat daster. Program pembinaan ini merupakan salah satu wujud pembinaan kemandirian yang memberikan bekal kepada narapidana agar dapat meningkatkan pengetahuan dibidang kewirausahaan serta memperoleh keterampilan kerja dan kemandirian untuk berwirausaha di bidang kerajinan tangan. Adanya pelatihan bagi narapidana dengan program pembinaan kewirausahaan ini diharapkan nantinya dapat menjadi manusia yang berkualitas dan mampu berperan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, narapidana dapat menggunakan keterampilan dan pengetahuannya untuk membuka peluang kerja dengan wirausaha dalam bidang kerajinan tangan misalnya dalam hal pembuatan  tas dan lain sebagainya.
Narapidana di Lapas Perempuan Kelas II Pontianak memiliki latar belakang kasus yang berbeda. Sebagian besar narapidana melakukan tindakan yang melanggar hukum karena dorongan kebutuhan ekonomi karena tidak memiliki pekerjaan. Narapidana melakukan tindakan penipuan, narkotika, perjudian, korupsi, kesusilaan, penggelapan. Oleh karena itu narapidana memerlukan program pembinaan khusus agar dapat memenuhi kebutuhan ekonomi melalui wirausaha yaitu program pembentukan perilaku wirausaha. Dengan adanya pembinaan kewirausahaan ini diharapkan narapidana dapat memiliki minat wirausaha dan mampu membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan tidak mengulangi kesalahannya.
Berdasarkan hal diatas, tentunya, pengembangan pelatihan wirausaha sangatlah penting, karena dapat mendorong munculnya beragam kesempatan berusaha dalam dunia kerja yang memasuki era globalisasi dan perkembangan teknologi disegala bidang. Seiring dengan pendapat H.A. Rusdiana (2014:19) “Adapun manfaat wirausaha secara lebih terperinci, antara lain : (1) menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran; (2) sebagai generator pembangunan lingkungan, bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan, dan sebagainya; (3) menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain, sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh dan diteladani karena seorang wirausaha adalah orang terpuji; jujur; berani; hidup tidak merugikan orang lain; (4) menghormati hukum dan peraturan yang berlaku, berusaha selalu memperjuangkan lingkungan; (5) memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial, sesuai dengan kemampuannya; (6) mendidik pekerjaan; (7) memberi contoh tentang cara bekerja keras, tanpa melupakan perintah-perintah agama, dekat dengan Allah SWT; (8) hidup secaara efisien, tidak berfoya-foya, dan tidak boros; (9) memelihara keserasian lingkungan, baik dalam pergaulan maupun kebersihan lingkungan”.
Sedangkan menurut Schumpeter dalam Zhou Hong (2012) “ thought an entrepreneur should be an innovator. Later on, a piece of new identifiaction was added to the concept of entrepreneur, which is the ability to discover and bring in new, better products, service and processto make profit.” (Pola pikir seorang pengusaha harus memberikan inovasi, yang kemudian mengidentifikasi sesuatu yang baru dengan konsep wirausahaan, yaitu mampu untuk menemukan dan membawa produk, layanan, dan proses baru ke arah yang lebih baik untuk menghasilkan keuntungan ).
Dengan hal ini, menjadi dasar yang kuat bahwa wirausaha ini sangat penting untuk masa sekarang dan yang akan datang, dengan pengalaman yang di dapat dari pendidikan dan pelatihan pada masa menjadi penghuni Lapas.
Berdasarkan observasi awal yang telah peneliti lakukan terkait minat berwirausaha penghuni Lapas Perempuan Kelas II A Pontianak adalah tergolong tinggi. Dari jumlah data penghuni Lapas Perempuan kelas II A tahun 2018 sebanyak 91,67% adalah kasus pengedaran narkotika, sebanyak 3,57% adalah kasus korupsi, sebanyak 1,19% kasus penggelapan, sebanyak 1,19% kasus kesusilaan, sebanyak 1,19% kasus penipuan dan sebanyak 1,19% adalah kasus perjudian. Adapun hasil wawancara dengan ketua bidang kegiatan kerja LPP Kelas II A Pontianak, narapidana setelah keluar dari masa tahanan sebagian besar adalah melakukan praktek wirausaha pada jalan kehidupannya masing-masing.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, penelliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha Penghuni Lapas Perempuan Kelas II A Di Pontianak

METODE PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan di Lapas Perempuan kelas II Pontianak. Bentuk penelitian yang akan digunakan dalam penelitian adalah dengan metode survei. Kerlinger (1973) mengemukakan bahwa “ penelitian survei adalah penelitia yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi. Metode pengumpulan data menggunakan metode tes, angket, dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis data menggunakan teknik deskriptif presentase dan analisis regresi linear berganda.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Pendidikan kewirausahaan terhadap Minat berwirausaha
Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha digunakan analisis regresi sederhana. Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara individual. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS Statistics 23.0 for Windows. Ringkasan hasil analisis dirangkum pada tabel berikut:
Tabel Coefficients



Unstandardized
Standardized





Coefficients
Coefficients


Model

B
Std. Error
Beta
t
Sig.
1
(Constant)

27.452
.907

30.269
.000









Pendidikan

3.797
.045
.993
83.542
.000
a. Dependent Variable: Minat






Berdasarkan garis analisis, maka persamaan garis regresi dapat dinyatakan sebagai berikut: Y = 27.452 + 0.993X1 Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien (a) sebesar 0,993 dan bilangan konstanta (K) sebesar 27.452.
Model regresi yang terbentuk dari pendidikan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan pontianak adalah Y = 27.452 + 0.993X1.
Berdasarkan hasil analisis uji t pada tabel 4.10 diatas yang menunjukkan harga thitung sebesar 83.542 Harga ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar ttabel = 1.9845. Hasil ini menunjukkan bahwa thitung = 83.542 lebih besar dari ttabel = 1.9845 artinya terdapat pengaruh signifikan pendidikan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan pontianak. Melihat nilai rx1y sebesar 0,993 dan p-value sebesar 0,000 < 0,05, maka hipotesis yang berbunyi “pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha berpengaruh positif” diterima.

Pengaruh Pelatihan terhadap Minat Berwirausaha
Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan berwirausaha terhadap minat berwirausaha digunakan analisis regresi sederhana. Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara individual. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS Statistics 23.0 for Windows. Ringkasan hasil analisis dirangkum dalam tabel dibawah inidilihat pada tabel berikut:








Tabel Coefficients



Unstandardized
Standardized





Coefficients
Coefficients


Model

B
Std. Error
Beta
t
Sig.
1
(Constant)

2.007
.593

3.386
.001









Pelatihan

1.017
.006
.998
169.893
.000
a. Dependent Variable: Minat






Berdasarkan garis analisis, maka persamaan garis regresi dapat dinyatakan sebagai berikut: Y = 2.007 + 0.998X2 Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien (a) sebesar 0,998 dan bilangan konstanta (K) sebesar 2.007. Model regresi yang terbentuk dari pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas adalah Y = 2.007 + 0.998X2.
Berdasarkan hasil analisis uji t pada tabel diatas yang menunjukkan harga thitung = 169.893 Harga ttabel pada taraf signifikansi 5% ttabel = 1.9845. Hasil ini menunjukkan bahwa thitung = 169.893 lebih besar dari ttabel = 1.9845 artinya terdapat pengaruh signifikan pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan. Melihat nilai rx1y sebesar 0,998 dan p-value sebesar 0,000 < 0,05, maka hipotesis yang berbunyi “pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan pontianak berpengaruh positif” diterima.

Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Minat Berwirausaha
Untuk mengetahui pengaruh pelatihan kewirausahaan dan pengetahuan berwirausaha terhadap minat berwirausaha digunakan analisis regresi ganda. Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara bersama-sama. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS Statistics 26.0 for Windows. Ringkasan hasil analisis dirangkum dalam tabel tabel  berikut:

Tabel Coefficients



Unstandardized
Standardized





Coefficients
Coefficients


Model

B
Std. Error
Beta
t
Sig.
1
(Constant)

7.823
.941

8.313
.000









Pendidikan

.773
.034
.759
22.618
.000

Pelatihan

.923
.128
.241
7.191
.000
a. Dependent Variable: Minat






Berdasarkan garis analisis, maka persamaan garis regresi dapat dinyatakan sebagai berikut: Y = 7.823 + 0.759X1 + 0.241X2 Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien (a) sebesar 0,759X1 dan 0.241X2 dan bilangan konstanta (K) sebesar 7.823. Model regresi yang terbentuk dari pendidikan dan pelatihan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan adalah Y = 7.823 + 0.759X1 + 0.241X2.
Dari persamaan ini nilai koefisien 0,759X1; memberikan pengertian, apabila ada peningkatan pendidikan kewirausahaan (X1) sebesar 1 poin dengan asumsi pelatihan berwirausaha (X2) tetap maka akan ada peningkatan minat berwirausaha (Y) R1 = 0,759X1. Nilai koefisien R2 = 0,241 X2 memberikan pengertian, apabila ada peningkatan variabel pelatihan berwirausaha (X2) sebesar 1 poin dengan asumsi pendidikan kewirausahaan (X1) tetap maka akan ada peningkatan minat berwirausaha (Y) sebesar R2 = 0,241. Nilai konstanta (K) sebesar 7.823.

Koefisien determinasi (R²) antara prediktor X dan X terhadap Y
Besarnya koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien determinasi (R²). Koefisien ini disebut koefisien penentu, karena varian yang terjadi pada variabel dependen dapat dijelaskan melalui varians yang terjadi pada variabel independen. Berdasarkan analisis denggan menggunakan SPSS Statistics 23.0 for Windows, harga koefisien determinasi X dan X terhadap Y (R²y₁₂) sebesar 0,998.
Adapun R Square pada tabel 4.15 dibawah ini menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) = 0.998. Dengan demikian menunjukkan  pendidikan dan pelatihan kewirausahaan dan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan sebesar 99.8% maka pengaruh pelatihan kewirausahaan dan pengetahuan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan sebesar 99.8% sedangkan sisanya (100% - 99.8% = 0.2%) merupakan kontribusi faktor yang tidak diteliti. . Dapat dilihat pada tabel berikut ini :





Std. Error

Change Statistics




R
Adjusted
of the
R Square




Sig. F
Model
R
Square
R Square
Estimate
Change
F Change
df1

df2
Change
1
.999a
.998
.998
.84491
.998
21926.353
2

97
.000











Tabel Summary
a.         Predictors: (Constant), pelatihan, Pengetahuan
b.         Dependent Variabel : Minat
Berdasarkan hasil uji regresi ganda diperoleh Fhitung sebesar 21926.353 sedangkan Ftabel sebesar 3.09. Hal ini menunjukkan bahwa harga Fhitung lebih besar dari Ftabel yaitu Fhitung sebesar 21926.353 > Ftabel sebesar 3.09 artinya terdapat pengaruh signifikan pelatihan kewirausahaan dan pengetahuan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan. Dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut ini:

Tabel ANNOVA
Model

Sum of Squares
df

Mean Square
F
Sig.
1
Regression
31305.504

2
15652.752
21926.353
.000b

Residual
69.246

97
.714











Total
31374.750

99











Dengan melihat nilai Ry(1,2,) sebesar 0,999 dan p-value sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis yang berbunyi “pendidikan dan pelatihan kewirausahaa terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan berpengaruh positif” diterima.




KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.         Terdapat pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha sebesar 98.6% sedangkan sisanya (1.4%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin baik pendidikan kewirausahaan maka semakin baik minat berwirausaha penghuni lapas.
2.         Terdapat pengaruh pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan sebesar 99.7% sedangkan sisanya (0.3%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin baik pelatihan berwirausaha maka semakin baik minat berwirausaha penghuni lapas.
3.         Terdapat pengaruh pendidikan dan pelatihan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 99.8% sedangkan sisanya (100% - 99.8% = 0.2%) merupakan kontribusi faktor yang tidak diteliti, untuk meningkatkan minat berwirausaha penghuni lapas maka pendidikan dan pelatihan kewirausahaan perlu ditingkatkan.
Saran
1.         Untuk lebih meningkatkan minat berwirausaha maka mindset penghuni lapas harus ditekankan pada upaya usaha mandiri dari pada mengharapkan pekerjaan dari orang lain. Dengan bekal mengikuti pelatihan, pendidikan, kursus kewirausahaan akan tertarik untuk berwirausaha.
2.         Untuk lebih membekali pengetahuan kewirausahaan penghuni lapas baik melalui praktik melalui proses pelatihan. Semakin tinggi pengetahuan kewirausahaan penghuni lapas maka semakin terbuka wawasannya tentang kewirausahaan dan akan meningkatkan minat berwirausaha.



DAFTAR PUSTAKA
Al-Mighwar (2011) Psikologi Perkembangan Remaja, Jakarta Andika (2012)
Arikunto (2013) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Buchari. (2013) Kewirausahaan Penuntun Perkuliahan untuk Perguruan Tinggi. Bandung: Alfabeta
Dimyanti Mudjiono (2013) Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Djaali (2013) Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Kasmir. (2010). Kewirausahaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suryana. 2013. Kewirausahaan Kiat dan Proses Menuju Sukses Edisi Empat. Jakarta: Salemba Empat.
Suwati. 2008. Sekolah Bukan Untuk Mencari Pekerjaan. Bandung: PT karya Kita.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sunyoto, Danang. (2011). Metodologi Penelitian Ekonomi. Yogyakarta: CAPS.
Suryana. (2009). Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba Empat.
Wawan, A, dan Dewi M. 2011. Teori & Pengukuran Pengetahuan Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home