PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT BERWIRAUSAHA PENGHUNI LAPAS PEREMPUAN DI PONTIANAK
PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT
BERWIRAUSAHA PENGHUNI LAPAS PEREMPUAN DI PONTIANAK
Heni
Maryani
Email:
ekonomiteacher@gmail.com
Program
Studi Magister Pendidikan Ekonomi FKIP Untan
Abstrak
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan pelatihan kewirausahaan terhadap minat
berwirausaha penghuni lapas perempuan Pontianak. Teknik pengumpulan data
menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 84 napi dari berbagai jenis
kejahatan. Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah regresi linear
berganda. Bentuk penelitian kuasi survei adalah analisis legresi linier
berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen yaitu
pengaruh pendidikan dan pelatihan kewirausahaan terhadap minat berwirausah. Pengumpulan data
dilkaukan dengan kuisoner terhaddap 84 responden/sampel. Hasil penelitian didapat, 1) Terdapat pengaruh pendidikan
kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 98.6%, 2)
Terdapat pengaruh pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni
lapas sebesar 99.7%, 3) Terdapat pengaruh pendidiakn dan pelatihan terhadap
minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 99.8% sedangkan sisanya (100% - 99.8%
= 0.2%) merupakan kontribusi faktor yang tidak diteliti
Kata kunci: Pengaruh Pendidikan, Pelatihan,
Minat Berwirausaha
PENDAHULUAN
Indonesia pada masa lalu menggunakan istilah penjara untuk menamai tempat
yang digunakan bagi para pelaku kejahatan. Tempat ini terdiri dari jalur-jalur
bangunan dan setiap jalur terdiri dari kamar-kamar kecil yang satu dan lainnya
tidak dapat berhubungan. Dengan demikian diharapkan setelah menjalani
hukumannya ia akan menjadi insaf dan tidak melakukan tindak kejahatan lagi.
Akan tetapi tindakan seperti itu tidak bertujuan mendidik secara positif. Hal
itu secara psikologis dapat menimbulkan kemungkinan-kemungkinan psikis yang
berakibat sakit mental, kejahatan besar atau kejahatan besar kambuhan.
Dari beberapa
kemungkinan yang terjadi terebut maka pemerintah mengubah peran Penjara menjadi
Lembaga Permasyarakatan (LAPAS). Artinya para terhukum ditempatkan bersama dan
proses penempatan serta kegiatan sesuai jadwal sejak terhukum masuk lembaga,
disamping lamanya menjalani masa hukuman. Lembaga Pemasyarakatan bukan hanya
sekedar tempat untuk memenjarakan orang yang melakukan tindak kejahatan saja,
namun di dalamnya terdapat pembinaan agar orang tersebut tidak melakukan tindak
pidana lagi. Sementara itu terdapat akibat negatif yang ditimbulkan dan sering
dilontarkan bahwa pidana penjara tidak hanya mengakibatkan perampasan
kemerdekaan seseorang saja, tetapi ada stigma atau cap jahat yang melekat pada
diri terpidana sekalipun tidak melakukan tindak pidana lagi dan berdampak
memiliki martabat yang buruk dimuka umum untuk mendapatkan pekerjaan.
Dengan adanya
hal di atas perlu diadakan pembinaan dalam bidang kemandirian dilakukan dengan
tujuan setelah narapidana keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, mereka dapat
mandiri dengan bekerja pada orang lain atau membuka usaha sendiri, sehingga
dapat berguna di tengah-tengah masyarakat. Didalam perjalanan pembinaan terebut
membutuhkan waktu yang lama serta proses yang tidak cepat, namun seiring dengan
berjalannya masa tahanan narapidana dapat menjalani proses dengan baik dan bisa
kembali berbaur di dalam masyarakat.
Pelatihan
keterampilan wirausaha sebagai salah satu program pembinaan untuk memperoleh
pengetahuan dan minat wirausaha dikategorikan kedalam ruang lingkup pembinaan
narapidana adalah untuk membuat narapidana dapat bergaul dengan narapidana lain
selama menjalani keterampilan dan juga sebagai bekal narapidana dalam proses
reintegrasi dengan masyarakat. Pembinaan keterampilan sebagai salah satu
program pembinaan narapidana akan dapat terlaksana secara maksimal dengan
menjalin kerjasama melalui pihak ketiga baik dengan instansi pemerintah maupun
pihak swasta yang dapat memberikan bimbingan pengetahuan keterampilan yang
bermanfaat di masyarakat apabila nanti jika habis masa tahanan. Narapidana
harus dibekali keterampilan yang sesuai dengan kemampuan agar mereka mampu
mandiri dan mampu bersaing dengan masyarakat tanpa melakukan tindak kejahatan
lagi.
Selain itu,
sumber daya manusia yang berkualitaslah yang sangat diharapkan mampu mengembangkan
serta merupakan salah satu aset utama dalam menggali dan mengembangkan segala
potensi yang ada pada suatu negara. Tentu dalam menyiapkan sumber daya manusia
yang berkualitas untuk para narapidana tersebut, pemerintah berusaha keras
mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional melalui
program pelatihan yang dilakukan di Lapas. Secara jelas pemerintah Negara
Kesatuan Republik Indonesia telah memberikan perhatian yang cukup besar
terhadap dunia pendidikan. Langkah ini tersusun dalam Undang-Undang No. 20
tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa :
“Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yan
bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
perkembangan potensi siswa didik agar menjadi peserta didik yang berima,
bertakwa pada Tuhan, berakhlak mulia, sehat berilmu, kreatif, mandiri dan
menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab.”
Tujuan
pendidikan nasional tesebut dapat dicapai dengan tiga macam pendidikan yaitu
pendidikan formal, informal dan non formal. Pendidikan formal yang merupakan
pendidikan yang terjadi disekolah, pendidikan informal merupakan pendidikan
yang terjadi didalam lingkungan keluarga dan pendidikan non formal merupakan
pendidikan yang terjadi dilingkungan masyarakat musalnya LPK dan kursus-kursus.
Pendidikan non
formal dalam suatu masyarakat memiliki fungsi penting dalam pengembangan
ekonomi masyarakat, sehingga pendidikan non formal perlu dikembangkan disamping
pendidikan formal. Dalam konteks pembangunan ekonomi berkelanjutan, dengan
melihat kelompok sasaran pendidikan non formal memegang peran untuk
memberdayakan warga masyarakat yang kurang beruntung dan juga mereka yang
beruntung, para 2 pekerja dan mereka yang akan bekerja. Munculnya masyarakat
yang kurang beruntung disatu sisi di sebabkan oleh pembangunan ekonomi yang
ditandai dengan adanya peningkatan lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan
pendapatan tetapi tidak dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat karena
keterbatasan kemampuan yang dimiliki baik pengetahuan, sikap, mental, kesehatan
dan juga kepemilikan modal.
Menurut
Sakernas dalam Made Dharmawati (2016:1) “ mengemukakan fenomena ironis yang
muncul di dunia pendidikan Indonesia dimana semangkin tinggi pendidikan
seseorang, probabilitas atau kemungkinan menjadi pengangguran semakin tinggi.”
Hal ini
dilihat berdasarkan pada angka BPS – Statistik Indonesia, pada November 2017,
sebanyak 128,06 juta penduduk Indonesia adalah angkatan kerja, jumlahnya
bertambah 2,62 juta orang dari agustus 2016, tingkat partisipasi angkatan kerja
(TPAK) juga megalami peningkatan 0,33 poin. Dalam setahun terakhir,
pengangguran bertambah 10 ribu orang, sementara TPT turun sebesar 0,11 poin.
Dari data diatas
terlihat bahwa masih besarnya angka pengangguran, tentunya penciptaan dari
lapangan pekerjaan tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja yang
menyebabkan besarnya angka pengangguran. Hal ini menjadi salah satu tuntutan
bahwa kualitas sumber daya manusia yang semakin tinggi.
Dalam hal ini
tentunya, sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu membawa suatu negara
kearah yang lebih maju. Dari pengukuran sekarang dapat dilihat bahwa sumber
daya manusia semakin menentukan persaingan dibandingkan dengan sumber daya
lainnya. Tantangan ini sangat mengupayakan agar adanya daya saing dan
keunggulan kompetitif yang lebih mengandalkan pengetahuan serta adanya
keterampilan, kreativitas dan inovatif
dari sumber daya manusia yang ada.
Program
pendidikan di Lembaga Permasyarakatan ditekankan pada kegiatan pembinaan dan
pelatihan bagi narapidana (warga binaan). Ruang lingkup pembinaan narapidana di
Lembaga Permasyarakatan dibagi menjadi dua bidang yakni program pembinaan
kepribadian dan program pembinaan kemandirian. Lembaga Permasyarakatan
Perempuan di Pontianak merupakan salah satu tempat penyelenggaraan program
kemandirian berupa pembinaan keterampilan dalam memberikan pengetahuan yang
dilaksanakan di Lapas. Program pelatihan ini dimulai pada bulan maret tahun
2017. Pelatihan yang telah dilaksanakan yakni pembuatan tas talikur dan rajut,
pembuatan kalung manik, pelatihan menjahit membuat daster. Program pembinaan
ini merupakan salah satu wujud pembinaan kemandirian yang memberikan bekal
kepada narapidana agar dapat meningkatkan pengetahuan dibidang kewirausahaan
serta memperoleh keterampilan kerja dan kemandirian untuk berwirausaha di
bidang kerajinan tangan. Adanya pelatihan bagi narapidana dengan program
pembinaan kewirausahaan ini diharapkan nantinya dapat menjadi manusia yang
berkualitas dan mampu berperan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Artinya, narapidana dapat menggunakan keterampilan dan pengetahuannya untuk
membuka peluang kerja dengan wirausaha dalam bidang kerajinan tangan misalnya
dalam hal pembuatan tas dan lain
sebagainya.
Narapidana di
Lapas Perempuan Kelas II Pontianak memiliki latar belakang kasus yang berbeda.
Sebagian besar narapidana melakukan tindakan yang melanggar hukum karena
dorongan kebutuhan ekonomi karena tidak memiliki pekerjaan. Narapidana
melakukan tindakan penipuan, narkotika, perjudian, korupsi, kesusilaan,
penggelapan. Oleh karena itu narapidana memerlukan program pembinaan khusus
agar dapat memenuhi kebutuhan ekonomi melalui wirausaha yaitu program
pembentukan perilaku wirausaha. Dengan adanya pembinaan kewirausahaan ini
diharapkan narapidana dapat memiliki minat wirausaha dan mampu membuka lapangan
kerja bagi dirinya sendiri dan tidak mengulangi kesalahannya.
Berdasarkan
hal diatas, tentunya, pengembangan pelatihan wirausaha sangatlah penting,
karena dapat mendorong munculnya beragam kesempatan berusaha dalam dunia kerja
yang memasuki era globalisasi dan perkembangan teknologi disegala bidang. Seiring dengan pendapat
H.A. Rusdiana (2014:19) “Adapun manfaat wirausaha secara
lebih terperinci, antara lain : (1) menambah daya tampung tenaga kerja,
sehingga dapat mengurangi pengangguran; (2) sebagai generator pembangunan
lingkungan, bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan,
kesejahteraan, dan sebagainya; (3) menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain,
sebagai pribadi unggul yang patut dicontoh dan diteladani karena seorang
wirausaha adalah orang terpuji; jujur; berani; hidup tidak merugikan orang
lain; (4) menghormati hukum dan peraturan yang berlaku, berusaha selalu
memperjuangkan lingkungan; (5) memberi bantuan kepada orang lain dan
pembangunan sosial, sesuai dengan kemampuannya; (6) mendidik pekerjaan; (7)
memberi contoh tentang cara bekerja keras, tanpa melupakan perintah-perintah
agama, dekat dengan Allah SWT; (8) hidup secaara efisien, tidak berfoya-foya,
dan tidak boros; (9) memelihara keserasian lingkungan, baik dalam pergaulan
maupun kebersihan lingkungan”.
Sedangkan
menurut Schumpeter dalam Zhou Hong (2012) “ thought an entrepreneur should be
an innovator. Later on, a piece of new identifiaction was added to the concept
of entrepreneur, which is the ability to discover and bring in new, better
products, service and processto make profit.” (Pola pikir seorang pengusaha
harus memberikan inovasi, yang kemudian mengidentifikasi sesuatu yang baru
dengan konsep wirausahaan, yaitu mampu untuk menemukan dan membawa produk,
layanan, dan proses baru ke arah yang lebih baik untuk menghasilkan keuntungan
).
Dengan hal
ini, menjadi dasar yang kuat bahwa wirausaha ini sangat penting untuk masa
sekarang dan yang akan datang, dengan pengalaman yang di dapat dari pendidikan
dan pelatihan pada masa menjadi penghuni Lapas.
Berdasarkan
observasi awal yang telah peneliti lakukan terkait minat berwirausaha penghuni
Lapas Perempuan Kelas II A Pontianak adalah tergolong tinggi. Dari jumlah data
penghuni Lapas Perempuan kelas II A tahun 2018 sebanyak 91,67% adalah kasus
pengedaran narkotika, sebanyak 3,57% adalah kasus korupsi, sebanyak 1,19% kasus
penggelapan, sebanyak 1,19% kasus kesusilaan, sebanyak 1,19% kasus penipuan dan
sebanyak 1,19% adalah kasus perjudian. Adapun hasil wawancara dengan ketua
bidang kegiatan kerja LPP Kelas II A Pontianak, narapidana setelah keluar dari
masa tahanan sebagian besar adalah melakukan praktek wirausaha pada jalan
kehidupannya masing-masing.
Berdasarkan
uraian yang telah dikemukakan diatas, penelliti tertarik untuk mengadakan
penelitian tentang “Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha
Penghuni Lapas Perempuan Kelas II A Di Pontianak”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
akan dilakukan di Lapas Perempuan kelas II Pontianak. Bentuk penelitian yang
akan digunakan dalam penelitian adalah dengan metode survei. Kerlinger (1973)
mengemukakan bahwa “ penelitian survei adalah penelitia yang dilakukan pada
populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari
sampel yang diambil dari populasi. Metode pengumpulan data menggunakan metode
tes, angket, dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis data menggunakan teknik
deskriptif presentase dan analisis regresi linear berganda.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Pendidikan
kewirausahaan terhadap Minat berwirausaha
Untuk
mengetahui pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha
digunakan analisis regresi sederhana. Analisis ini digunakan untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara
individual. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS Statistics
23.0 for Windows. Ringkasan hasil analisis dirangkum pada tabel berikut:
Tabel
Coefficients
|
|
|
|
Unstandardized
|
Standardized
|
|
|
|
|
|
|
|
Coefficients
|
Coefficients
|
|
|
|
|
Model
|
|
B
|
Std. Error
|
Beta
|
t
|
Sig.
|
|
|
1
|
(Constant)
|
|
27.452
|
.907
|
|
30.269
|
.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pendidikan
|
|
3.797
|
.045
|
.993
|
83.542
|
.000
|
|
a. Dependent Variable:
Minat
|
|
|
|
|
|
||
Berdasarkan garis analisis, maka persamaan garis regresi dapat dinyatakan sebagai
berikut: Y = 27.452 + 0.993X1 Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai
koefisien (a) sebesar 0,993 dan bilangan konstanta (K) sebesar 27.452.
Model regresi yang terbentuk dari pendidikan terhadap minat berwirausaha penghuni
lapas perempuan pontianak adalah Y = 27.452 + 0.993X1.
Berdasarkan hasil analisis uji t pada tabel 4.10 diatas yang menunjukkan
harga thitung sebesar 83.542 Harga ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar
ttabel = 1.9845. Hasil ini menunjukkan bahwa thitung = 83.542 lebih besar dari
ttabel = 1.9845 artinya terdapat pengaruh signifikan pendidikan terhadap minat
berwirausaha penghuni lapas perempuan pontianak. Melihat nilai rx1y sebesar
0,993 dan p-value sebesar 0,000 < 0,05, maka hipotesis yang berbunyi “pendidikan
kewirausahaan terhadap minat berwirausaha berpengaruh positif” diterima.
Pengaruh Pelatihan terhadap Minat Berwirausaha
Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan berwirausaha terhadap minat berwirausaha digunakan analisis
regresi sederhana. Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara individual. Analisis
ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS Statistics 23.0 for
Windows. Ringkasan hasil analisis dirangkum dalam tabel dibawah inidilihat pada
tabel berikut:
Tabel
Coefficients
|
|
|
|
Unstandardized
|
Standardized
|
|
|
|
|
|
|
|
Coefficients
|
Coefficients
|
|
|
|
|
Model
|
|
B
|
Std.
Error
|
Beta
|
t
|
Sig.
|
|
|
1
|
(Constant)
|
|
2.007
|
.593
|
|
3.386
|
.001
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pelatihan
|
|
1.017
|
.006
|
.998
|
169.893
|
.000
|
|
a. Dependent
Variable: Minat
|
|
|
|
|
|
||
Berdasarkan garis analisis, maka persamaan garis regresi dapat dinyatakan
sebagai berikut: Y = 2.007 + 0.998X2 Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai
koefisien (a) sebesar 0,998 dan bilangan konstanta (K) sebesar 2.007. Model
regresi yang terbentuk dari pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha
penghuni lapas adalah Y = 2.007 + 0.998X2.
Berdasarkan hasil analisis uji t pada tabel diatas yang menunjukkan harga
thitung = 169.893 Harga ttabel pada taraf signifikansi 5% ttabel = 1.9845.
Hasil ini menunjukkan bahwa thitung = 169.893 lebih besar dari ttabel = 1.9845
artinya terdapat pengaruh signifikan pelatihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha
penghuni lapas perempuan. Melihat nilai rx1y sebesar 0,998 dan p-value sebesar
0,000 < 0,05, maka hipotesis yang berbunyi “pelatihan berwirausaha terhadap
minat berwirausaha penghuni lapas perempuan pontianak berpengaruh positif” diterima.
Pengaruh Pendidikan dan
Pelatihan Terhadap Minat Berwirausaha
Untuk mengetahui pengaruh pelatihan kewirausahaan dan pengetahuan
berwirausaha terhadap minat berwirausaha digunakan analisis regresi ganda.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat secara bersama-sama. Analisis ini dilakukan dengan
menggunakan bantuan program komputer SPSS Statistics 26.0 for Windows.
Ringkasan hasil analisis dirangkum dalam tabel tabel berikut:
Tabel Coefficients
|
|
|
|
Unstandardized
|
Standardized
|
|
|
|
|
|
|
|
Coefficients
|
Coefficients
|
|
|
|
|
Model
|
|
B
|
Std.
Error
|
Beta
|
t
|
Sig.
|
|
|
1
|
(Constant)
|
|
7.823
|
.941
|
|
8.313
|
.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pendidikan
|
|
.773
|
.034
|
.759
|
22.618
|
.000
|
|
|
Pelatihan
|
|
.923
|
.128
|
.241
|
7.191
|
.000
|
|
a. Dependent
Variable: Minat
|
|
|
|
|
|
||
Berdasarkan garis analisis, maka persamaan garis regresi dapat dinyatakan
sebagai berikut: Y = 7.823 + 0.759X1 + 0.241X2 Persamaan tersebut menunjukkan
bahwa nilai koefisien (a) sebesar 0,759X1 dan 0.241X2 dan bilangan konstanta
(K) sebesar 7.823. Model regresi yang terbentuk dari pendidikan dan pelatihan
kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan adalah Y =
7.823 + 0.759X1 + 0.241X2.
Dari persamaan ini nilai koefisien 0,759X1; memberikan pengertian, apabila
ada peningkatan pendidikan kewirausahaan (X1) sebesar 1 poin dengan asumsi pelatihan
berwirausaha (X2) tetap maka akan ada peningkatan minat berwirausaha (Y) R1 =
0,759X1. Nilai koefisien R2 = 0,241 X2 memberikan pengertian, apabila ada
peningkatan variabel pelatihan berwirausaha (X2) sebesar 1 poin dengan asumsi
pendidikan kewirausahaan (X1) tetap maka akan ada peningkatan minat
berwirausaha (Y) sebesar R2 = 0,241. Nilai konstanta (K) sebesar 7.823.
Koefisien determinasi (R²) antara prediktor X₁ dan X₂ terhadap Y
Besarnya koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien determinasi (R²). Koefisien ini disebut koefisien
penentu, karena varian yang terjadi pada variabel dependen dapat dijelaskan
melalui varians yang terjadi pada variabel independen. Berdasarkan analisis
denggan menggunakan SPSS Statistics 23.0 for Windows, harga koefisien
determinasi X₁ dan X₂ terhadap Y (R²y₁₂) sebesar 0,998.
Adapun R Square pada tabel 4.15 dibawah ini menunjukkan nilai koefisien
determinasi (R2) = 0.998. Dengan demikian menunjukkan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan dan
terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan sebesar 99.8% maka
pengaruh pelatihan kewirausahaan dan pengetahuan berwirausaha terhadap minat
berwirausaha penghuni lapas perempuan sebesar 99.8% sedangkan sisanya (100% - 99.8% = 0.2%) merupakan kontribusi
faktor yang tidak diteliti. . Dapat dilihat pada tabel berikut ini :
|
|
|
|
|
Std. Error
|
|
Change Statistics
|
|
|
||
|
|
|
R
|
Adjusted
|
of the
|
R Square
|
|
|
|
|
Sig. F
|
|
Model
|
R
|
Square
|
R Square
|
Estimate
|
Change
|
F Change
|
df1
|
|
df2
|
Change
|
|
1
|
.999a
|
.998
|
.998
|
.84491
|
.998
|
21926.353
|
2
|
|
97
|
.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tabel Summary
a.
Predictors: (Constant), pelatihan, Pengetahuan
b.
Dependent Variabel : Minat
Berdasarkan hasil uji regresi ganda diperoleh Fhitung sebesar 21926.353
sedangkan Ftabel sebesar 3.09. Hal ini menunjukkan bahwa harga Fhitung lebih
besar dari Ftabel yaitu Fhitung sebesar 21926.353 > Ftabel sebesar 3.09
artinya terdapat pengaruh signifikan pelatihan kewirausahaan dan pengetahuan
berwirausaha terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan. Dapat
dilihat pada tabel 4.14 berikut ini:
Tabel ANNOVA
|
Model
|
|
Sum of Squares
|
df
|
|
Mean Square
|
F
|
Sig.
|
|
1
|
Regression
|
31305.504
|
|
2
|
15652.752
|
21926.353
|
.000b
|
|
|
Residual
|
69.246
|
|
97
|
.714
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total
|
31374.750
|
|
99
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dengan melihat nilai Ry(1,2,) sebesar 0,999 dan p-value sebesar 0,000 lebih
kecil dari 0,05, maka hipotesis yang berbunyi “pendidikan dan pelatihan
kewirausahaa terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan berpengaruh
positif” diterima.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Terdapat pengaruh pendidikan kewirausahaan
terhadap minat berwirausaha sebesar 98.6% sedangkan sisanya (1.4%) dipengaruhi
oleh variabel lain di luar penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
semakin baik pendidikan kewirausahaan maka semakin baik minat berwirausaha
penghuni lapas.
2.
Terdapat pengaruh pelatihan berwirausaha
terhadap minat berwirausaha penghuni lapas perempuan sebesar 99.7% sedangkan
sisanya (0.3%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa semakin baik pelatihan berwirausaha maka
semakin baik minat berwirausaha penghuni lapas.
3.
Terdapat pengaruh pendidikan dan pelatihan
kewirausahaan terhadap minat berwirausaha penghuni lapas sebesar 99.8%
sedangkan sisanya (100% - 99.8% = 0.2%) merupakan kontribusi faktor yang tidak
diteliti, untuk meningkatkan minat berwirausaha penghuni lapas maka pendidikan
dan pelatihan kewirausahaan perlu ditingkatkan.
Saran
1.
Untuk lebih meningkatkan minat berwirausaha
maka mindset penghuni lapas harus ditekankan pada upaya usaha mandiri dari pada
mengharapkan pekerjaan dari orang lain. Dengan bekal mengikuti pelatihan, pendidikan,
kursus kewirausahaan akan tertarik untuk berwirausaha.
2.
Untuk lebih membekali pengetahuan
kewirausahaan penghuni lapas baik melalui praktik melalui proses pelatihan.
Semakin tinggi pengetahuan kewirausahaan penghuni lapas maka semakin terbuka
wawasannya tentang kewirausahaan dan akan meningkatkan minat berwirausaha.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mighwar (2011)
Psikologi Perkembangan Remaja, Jakarta Andika (2012)
Arikunto (2013) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Buchari. (2013) Kewirausahaan Penuntun Perkuliahan untuk Perguruan
Tinggi. Bandung: Alfabeta
Dimyanti Mudjiono (2013) Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta
Djaali (2013) Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Kasmir. (2010). Kewirausahaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Suryana. 2013. Kewirausahaan Kiat dan Proses Menuju
Sukses Edisi Empat. Jakarta: Salemba Empat.
Suwati. 2008. Sekolah Bukan Untuk Mencari Pekerjaan.
Bandung: PT karya Kita.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sunyoto, Danang. (2011). Metodologi Penelitian Ekonomi.
Yogyakarta: CAPS.
Suryana. (2009). Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan
Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba Empat.
Wawan, A, dan Dewi M. 2011. Teori & Pengukuran
Pengetahuan Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home