Anaisis Jurnal Ekonomi Pancasila
Anaisis Jurnal Ekonomi Pancasila
Oleh: Ade Novita Anggraeni (F1031131029)
Judul
Jurnal: Ekonomi Pancasila Dalam
Tinjauan Filsafat Ilmu
Oleh: Prof. Dr. Dawam Rahardjo
Dari isi jurnal
yang saya baca, maka analisis yang dapat saya sampaikan adalah sebagai berikut:
Pancasila
sering juga disebut sebagai kombinasi antara Declaration of Independence dan
Manifesto Komunis. Tetapi yang lebih tepat, Pancasila intinya adalah
kombinasi tiga ideologi, yaitu Nasionalisme, Sosialisme dan Demokrasi,
tetapi kesemuanya didasarkan pada Humanisme dan kepercayaan Monoteisme. Bung
Karno sendiri dalam salah satu artikelnya menyebut tiga sumber ideologi, yaitu
Nasionalisme, Islamisme danKomunisme. Sedangkan Bung Hatta
menyebut tiga sumber lain, yaitu Islam, Sosialisme dan budaya
Indonesia. Jika Ekonomi Pancasila dapat dirumuskan sebagai “ekonomi
yang mendasarkan diri pada nilai-nilai Pancasila”, maka Ekonomi
Pancasila sebenarnya adalah sebuah sistem Ekonomi Campuran.
Pendekatan
filsafat ilmu terhadap Ekonomi Pancasila, menghendaki tiga tahap pembahasan. Pertama
adalah pembahasan ontologis mengenai keperiadaan “Ekonomi
Pancasila”. Kedua, pembahasan epistemologis yang menjawab
pertanyaan bagaimana memahami Ekonomi Pancasila itu dan bagaimana cara
kerjanya. Ketiga adalah pembahasan aksiologis yang mempertanyakan
hasil atau kondisi ideal yang dihasilkan oleh proses pembentukan Ekonomi
Pancasila.
Ekonomi
Islam, atau yang biasa didengar sebagai ekonomi syariah pada awalnya Ekonomi
Islam juga dilukiskan secara simbolis sebagai alternatif sistem Kapitalisme dan
Sosialisme. Tapi masyarakat bertanya, apa sistem ekonomi syari’ah itu ada
wujudnya, jika ada dimana, dan bagaimana kenyataannya, apakah lebih baik dari
sistem kapitalisme dan sosialisme, sebagaimana diklaim. Hanya saja, Ekonomi
Islam dan Ekonomi Syari’ah ini sudah lebih jauh berkembang dibanding dengan
pemikiran tentang sistem Ekonomi Pancasila.
Ekonomi
pancasila disebut juga sebagai ekonomi yang berasaskan kekekeluargaan,
kegotong-royongan dan kerjasama. Ini adalah nilai-nilai tradisional yang
bersumber pada budaya Indonesia. Tapi asas kekeluargaan ini, yang berdasarkan
kepada solidaritas mekanis, telah ditransformasikan menjadi solidaritas
fungsional, dengan nilai-nilai individualita dalam lembaga koperasi.
Salah
satu masalah yang dihadapi oleh Ekonomi Pancasila adalah ketidak mampuan ekonom
konvensional yang mengikuti aliran Neoklasik itu untuk melihat gejala semacam
ekonomi rakyat. Salah seorang ekonom pernah menolak apa yang disebut “ekonomi
rakyat”. Baginya “ekonomi ya ekonomi”. Kesimpulan ini disebabkan karena
kacamata yang dipakai. Kacamata Neoklasik memang tidak mampu melihat gejala
ekonomi rakyat. Gejala ini hanya bisa ditangkap lewat kacamata
ekonomi-sosiologis atau antropologi ekonomi. Karena itulah, dalam rangka
advokasi Ekonomi Pancasila Prof. Mubyarto pernah mengusulkan dipergunakannnya
pendekatan multi-disipilin dalam melihat gejala ekonomi.
Secara
aksiologis Ekonomi Pancasila adalah sebagai perekonomian yang bertujuan untuk
mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan menghilangkan ketimpangan,
kesenjangan, ekspoitasi dan ketargantungan, melalui partisipasi rakyat dalam
kegiatan ekonomi sehingga tercapai suatu kondisi masyarakat yang beradilan atau
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Karena itu rumusan normatif
mengenai Ekonomi Pancasila perlu disusun. Pedoman normatif dalam kegiatan
ekonomi, yaitu Pancasila yang perlu ditafsirkan secara sosial-ekonomi.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home